Tokoh Perempuan Jerman

Hari perempuan internasional dirayakan pada tanggal 8 Maret setiap tahun dan menjadi hari yang bersejarah bagi pergerakan perempuan di seluruh dunia.

Setelah partai sosialis Amerika menyelenggarakan Hari Perempuan di New York City pada tanggal 28 Februari 1909, seorang revolusioner asal Jerman, yang bernama Clara Zetkin, mengusulkan untuk ditetapkannya Hari Perempuan Internasional pada Konferensi Perempuan Sosialis Internasional tahun 1910. Sejak saat itu, tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai Hari Perempuan Internasional.
Untuk merayakan Hari Perempuan Internasional, Sonne ingin membahas tentang tokoh perempuan terkenal Jerman yang berhasil mengubah sejarah.

Hildegard von Bingen (1098-1179)
Hildegard von Bingen adalah seorang filsuf, komposer musik, sastrawan abad pertengahan, dan juga ahli di bidang herbologi, kosmologi, medis, biologi, teologi, dan sejarah alam. Von Bingen adalah biarawati yang lahir di Kekaisaran Romawi Suci yang menolak untuk mengikuti hierarki patriaki di dalam gereja dan dia memperjuangkan posisi perempuan di dalam gereja. Saat dia masih berusia tiga tahun, dia mendapatkan sebuah visi yang dia terjemahkan sebagai pesan dari Tuhan dan sejak itu, dia mulai menggubah musik dan menulis teks-teks teologis yang terinspirasi dari visinya. Von Bingen juga dikenal karena menulis teks-teks botani dan medis serta tulisan ilmiah lainnya. Hal ini membuatnya dianggap sebagai pelopor ilmu pengetahuan alam bagi wanita pada masanya. Von Bingen dianggap sebagai orang yang suci dan pada tahun 2012 dinobatkan sebagai Doktor Gereja, gelar yang hanya diberikan kepada orang-orang kudus yang berkontribusi besar dengan tulisan-tulisan teologis mereka. Dia hanya satu dari empat wanita yang diberi gelar ini. (sumber: www.germanculture.com)

Marlene Dietrich (1901 – 1992)
Marlene Dietrich adalah aktris terkenal di Jerman dan Amerika Serikat pada tahun 1930-an dan 40-an. Dietrich lahir di Jerman dan memulai karir aktingnya di Berlin. Dia kemudian pindah ke AS untuk mengejar mimpi bermain film Hollywood. Film terobosannya, The Blue Angel, diputar di bioskop pada tahun 1930. Sejak saat itu, ia menjadi salah satu aktris Hollywood yang paling dicintai dan memiliki bayaran tertinggi. Bahkan, Dietrich pernah mendapatkan nominasi pemeran wanita terbaik di ajang bergengsi Oscar untuk film Morocco pada tahun 1931.

Dietrich tidak takut untuk menunjukkan pandangan politiknya dan dia terkenal sangat anti-Nazi, dan bahkan pernah menolak Nazi yang menginginkan Dietrich sebagai ikon Jerman dan memilih untuk menjadi warga negara AS. Pada tahun 1937, dia menyumbangkan semua uang yang dia peroleh dari film Knight Without Armor untuk membantu pada pengungsi Yahudi. Dia dianugerahi Medal of Freedom oleh AS pada tahun 1945. Setelah Tembok Berlin jatuh, Dietrich dimakamkan di samping ibunya di Berlin. (Sumber: The Guardian)

Beate Uhse (1919 – 2001)
Beate Uhse adalah seorang pilot pada Perang Dunia II. Dia memulai kariernya sebagai pilot sebelum perang. Saat itu, dia bekerja sebagai pilot akrobat wanita pertama dan satu-satunya di Jerman. Pada akhir PD II, dia berhasil menyelamatkan putranya dan pengasuhnya dari Berlin dan kemudian ditangkap oleh Pasukan Inggris. Setelah perang usai, Uhse bersama semua pilot Luftwaffe dilarang terbang lagi. Suaminya meninggal saat perang dan dia tidak memiliki sumber penghasilan untuk merawat putranya yang berusia dua tahun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Uhse mulai menjual pamflet dari pintu ke pintu kepada para wanita yang mengalami kesulitan untuk hamil, atau sebaliknya, berusaha menghindari kontrasepsi. Melihat banyak sekali wanita yang melakukan aborsi ilegal yang dapat membahayakan nyawa, Beate Uhse mulai menjual panduan pernikahan yang disebut “Pamflet X”, yang menawarkan tips bagi wanita untuk mencegah kehamilan. Kemudian, dia memulai sebuah perusahaan pesanan lewat pos yang menawarkan kondom dan buku tentang “kebersihan rumah tangga”. Pada tahun 1962, ia membuka “toko khusus untuk kebersihan perkawinan,” toko seks pertama di dunia. Uhse memperjuangkan hak-hak reproduksi dan kesehatan perempuan dan merupakan pelopor untuk pendidikan seks dan seks yang aman di Jerman. Dia menerima Verdienstorden der Bundesrepublik Deutschland (Order of Merit dari Republik Federal Jerman) pada tahun 1989 atas usahanya. (Sumber: www.germanculture.com)

Sophie Scholl (1921 – 1943)
Sophie Scholl baru berusia 21 tahun ketika dia dieksekusi atas pengkhianatan tingkat tinggi pada tahun 1943. Dia, bersama saudaranya, Hans Scholl, adalah aktivis dalam gerakan perlawanan Weiße Rose (Mawar Putih) selama Perang Dunia II. Dari sekian orang Jerman yang menentang kediktatoran Hitler, hanya segelintir kelompok yang melancarkan protes secara terbuka atas genosida Nazi terhadap kaum Yahudi. Gerakan “Mawar Putih” didirikan pada bulan Juni 1942 oleh Hans Scholl, seorang mahasiswa kedokteran berusia 24 tahun di Universitas Muenchen, saudari kandungnya Sophie yang berusia 22 tahun, dan Christoph Probst, 24 tahun. Meskipun asal-usul nama “Mawar Putih” tidak diketahui pasti, yang jelas ia bermakna kemurnian dan kepolosan yang berhadapan dengan kejahatan. Hans, Sophie, dan Christoph sangat gusar karena orang-orang Jerman yang terdidik menerima begitu saja kebijakan-kebijakan Nazi. Mereka menyebarluaskan surat-surat selebaran anti-Nazi dan mengecat slogan-slogan seperti “Merdeka!” dan “Lengserkan Hitler!” di dinding-dinding bangunan universitas. Pada bulan Februari 1943, Hans dan Sophie Scholl tertangkap tangan menyebarluaskan selebaran dan ditahan. Bersama dengan kawan mereka Christoph, mereka dieksekusi empat hari kemudian. Setelah kematiannya, selebaran keenam dan terakhir diselundupkan keluar dari Jerman dan pasukan sekutu menjatuhkan jutaan salinan ke Jerman dari udara. Selebaran ini kemudian diganti namanya menjadi Manifesto Pelajar Muenchen. Sophie Scholl menjadi simbol untuk perlawanan dan keberanian setelah perang. (Sumber: https://encyclopedia.ushmm.org/)

Steffi Graf (Lahir 1969)
Sebelum Serena Williams muncul dan mendominasi dunia tenis, Steffi Graf adalah petenis wanita asal Jerman yang berhasil meraih banyak kemenangan dalam pertandingan tenis di era 1980-1990-an. Dia adalah satu-satunya pemain yang pernah memenangkan grand slam sebanyak empat kali dan memiliki dua medali emas Olimpiade, bersama dengan satu perak dan perunggu.
Graf merupakan petenis yang menduduki posisi nomor 1 dunia, terlama di antara semua petenis baik putra maupun putri yaitu 377 minggu dan meraih 107 gelar WTA sepanjang kariernya di tennis era terbuka. Ia meraih gelar WTA Tour pertamanya pada turnamen Family Circle Magazine Cup 1986 dengan mengalahkan ratu tenis dunia lainnya Chris Evert ( Lloyd ) dengan skor 6-4 7-5. Setelah itu Graf selalu mampu mengalahkan Evert. Forehand Graf disebut-sebut merupakan yang terbaik di dunia. Tak ada nama lain yang mendominasi dunia tenis putri pada periode 1990-an selain Steffi Graf. Menjuarai 22 Grand Slam dan meraih empat medali Olimpiade selama 17 tahun berkarier, Graf merupakan salah satu atlet terbaik pada abad ke-20. Ia meraih 900 kemenangan dan hanya 115 kekalahan di nomor tunggal sepanjang kariernya. Graf dinobatkan sebagai atlet wanita terbaik Jerman abad 20. (Sumber: Encyclopedia Britannica)

Angela Merkel (lahir 1954)
Angela Dorothea Merkel (nama gadis Kasner; lahir 17 Juli 1954) adalah politikus dan ilmuwan peneliti Jerman yang menjabat sebagai Kanselir Jerman sejak 2005 dan Ketua dari partai Christlich Demokratische Union (CDU) sejak tahun 2000. Merkel adalah perempuan pertama yang memegang kedua jabatan tersebut.
Setelah mendapat gelar doktoralnya di bidang kimia fisik, Merkel terjun ke dunia politik pasca-Revolusi 1989. Ia sempat menjabat sebagai wakil juru bicara untuk kabinet Jerman Timur yang terpilih secara demokratis untuk pertama kalinya pada tahun 1990. Setelah penyatuan kembali Jerman tahun 1990, ia terpilih sebagai anggota Bundestag mewakili Stralsund-Nordvorpommern-Rügen di negara bagian Mecklenburg-Vorpommern. Kemudian ia diangkat sebagai Menteri Perempuan dan Pemuda pada tahun 1991 di bawah pemerintahan Kanselir Helmut Kohl, lalu Menteri Lingkungan tahun 1994. Tahun 2000, Merkel diangkat menjadi ketua partai CDU perempuan pertama setelah Wolfgang Schäuble dipaksa turun karena terlibat skandal sumbangan.
Setelah pemilu federal 2005, Merkel terpilih sebagai Kanselir Jerman perempuan pertama sekaligus pemimpin koalisi besar yang mencakup CDU. Pada tahun 2007, Merkel terpilih sebagai Presiden Dewan Eropa dan mengetuai forum G8. Ia memainkan peran utama dalam perundingan Perjanjian Lisbon dan Deklarasi Berlin. Salah satu prioritas utamanya adalah memperkuat hubungan ekonomi transatlantik lewat penandatanganan perjanjian Dewan Ekonomi Transatlantik tanggal 30 April 2007. Merkel juga berperan dalam penanganan krisis keuangan di tingkat Eropa dan internasional.
Menurut majalah Forbes tahun 2012 dan 2015, Merkel adalah tokoh paling berkuasa kedua di dunia, peringkat tertinggi yang pernah dicapai seorang perempuan. Bulan Desember 2015, majalah Time memilih Merkel sebagai Person of the Year dengan julukan “Kanselir Dunia Bebas.” (Sumber: Wikipedia)

Trümmerfrauen
Trümmerfrauen, secara harfiah berarti “perempuan puing-puing”, adalah para perempuan yang membangun kembali Jerman. Setelah Perang Dunia Kedua berakhir, banyak infrastruktur di banyak kota yang hancur dan pada saat itu, jumlah penduduk wanita lebih banyak daripada pria. Banyak penduduk pria yang tewas di peperangan atau belum kembali dari medan perang. Diperkirakan terdapat 400 juta meter kubik puing yang harus dibersihkan dan empat juta rumah akan dibangun kembali. Selama berbulan-bulan setelah berakhirnya perang, perempuan berusia 15-50 tahun, beberapa sukarelawan dan pekerja kontrak, mulai bekerja untuk membangun kembali Jerman dan Austria. Jam kerja para perempuan ini adalah 9 jam dengan 20-30 menit istirahat makan siang dan mereka mendapatkan bayaran sebesar 72 Pfennig per jam dan satu porsi makan siang. Setelah puing-puing dibersihkan dan Marshall Plan berjalan lancar, ekonomi Jerman Barat pulih sepuluh kali lipat, dan pada akhir 1950-an, keajaiban ekonomi telah terjadi. Tanpa para perempuan pemberani ini, Jerman dan Austria mungkin tidak akan sepenuhnya pulih dari kehancuran perang. Sayangnya, banyak tantara pria yang kembali pulang setelah perang, mengganggap Trümmerfrauen sebagai prostitusi. Raingard Esser, seorang doktor sejarah abad pertengahan dan modern, percaya bahwa para pria bertindak demikian untuk mengekspresikan kemarahan mereka karena mengetahui bahwa para wanita hebat ini bekerja untuk mendapatkan uang dan bertahan hidup, sementara mereka, para pria, bergantung pada para wanita tersebut. (Sumber: www.germanculture.com)